Jakarta, Kompas - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan akan adanya aliran dollar AS dalam jumlah sangat besar hingga sekitar 2.400 miliar dollar AS atau sekitar Rp 22.800 triliun pada tahun 2010 ke pasar internasional. Hal ini dilakukan The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) untuk mendukung kebijakan pemerintahan Presiden Barack Obama yang berniat fokus pada pemberian stimulus ekonomi dalam jumlah besar kepada rakyatnya.
”Itu akan seperti air bah karena berbeda dengan tahun 2008 yang justru terjadi kekeringan likuiditas, tahun depan justru akan terjadi kelebihan. Suku bunga akan rendah, investasi akan mudah, tetapi saya ingatkan ini tidak akan selamanya. Investor perlu menyiapkan berbagai skenario investasi yang memungkinkan adanya berbagai pilihan,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (2/12), saat berbicara dalam Pembukaan Investor Summit and Capital Market Expo 2009 yang dihadiri sekitar 2.000 investor.
Menurut Menkeu, investor perlu mempersiapkan diri dengan melihat kembali kondisi neracanya. Bagian-bagian yang rapuh dalam neraca perusahaan sebaiknya segera diperbaiki sehingga fundamental keuangan investor menjadi kuat.
”Jangan menjadi investor yang ’telat mikir’ agar tidak merugi. Jika ada peluang, sebaiknya segera posisikan diri di depan,” ungkapnya.
Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, proses pemulihan yang terjadi pada perekonomian global terus menunjukkan indikasi yang semakin kuat. Perbaikan yang paling tampak adalah di negara-negara berkembang Asia, terutama China. Sementara di negara maju, pemulihan ekonomi terus berlanjut.
Menurut dia, tren pelemahan dollar AS dan keberanian investor untuk menanggung risiko mendorong pasar keuangan global terus menguat. Selama Oktober 2009, tingkat risiko di negara maju dan berkembang mulai membaik yang tecermin pada perkembangan indikator risiko.
Terkait dengan kondisi perbankan dalam negeri, Darmin mengatakan, intermediasi perbankan telah meningkat sejak Agustus 2009. Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil yang tecermin dari tingginya tingkat kecukupan modal (CAR) sebesar 17,67 persen.
Selain itu, rasio utang bermasalah (NPL) cukup terjaga di bawah 5 persen dan likuiditas perbankan secara agregat masih mencukupi untuk kegiatan perbankan dalam pembiayaan perekonomian.
Selain itu, kebijakan Bank Indonesia memberlakukan giro wajib minimum sekunder sejak Oktober 2009 sebesar 2,5 persen diharapkan akan memperkuat pengelolaan likuiditas.
Sementara itu, praktisi pasar modal Rizal B Prasetijo, yang juga ditunjuk sebagai salah satu pembicara pada Investor Summit, mengatakan, likuiditas di pasar global masih akan bertumbuh. Namun, persentase pertumbuhannya tidak lagi sebesar tahun 2008 dan 2009.
Menurut dia, ke depan, tiga bank sentral utama di dunia, yaitu Bank Sentral AS, Bank Sentral Jepang, dan Bank Sentral Uni Eropa, pelan-pelan akan menarik dana yang telah disalurkan untuk stimulus tahun 2008. Penarikan secara perlahan itu menghindari terjadi inflasi yang tinggi tanpa menimbulkan efek negatif pada industri dan pertumbuhan ekonomi global. (REI/OIN)